Kategori
Pendidikan Today

Keren! Siswa SMK di Sukabumi Bikin Sanitizer Untuk Cegah Corona

SUKABUMITODAY.CO – Siswa SMK Persada Sukabumi berhasil membuat sanitizer yang dapat digunakan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Hal itu muncul di tengah menipisnya stok masker dan sanitizer atau cairan pembersih dan pencegah bakteri,

Sanitizer ini dibuat oleh siswa Jurusan Farmasi. Mereka membuat sanitizer atas arahan gurunya, Hendro Gusastra. Pria yang juga Kepala Jurusan Farmasi SMK Persada Kota Sukabumi itu mengatakan, hal ini telah diajarkan pada muridnya jauh hari.

“Saya ajarkan ke anak-anak dalam bebarapa bulan ke belakang. Pembuatan sanitizer tidak memerlukan waktu lama, Insya Allah sehari juga beres. Dibuat oleh anak-anak didik saya, sambil diawasi oleh saya,” ujarnya, Rabu (4/3/2020).

Hendro menjelaskan, sanitizer tersebut dibuat dari perpaduan zat kimia dan herbal, yang dicampur menjadi satu. Saat ini, para siswa telah memproduksi sekitar 20 botol dengan ukuran 60 mililiter, dan dibanderol dengan harga Rp 10.000 per botolnya.

Mengenai dapatkah sanitizer buatan siswa SMK Persada ini mencegah virus Corona, Hendro mengatakan bahwasanya sanitizer ini dapat membantu mencegah virus Corona.

“Terkait pencegahan penyebaran virus corona, insyaAllah bisa, karena salah satunya kebersihan dari tangan melalui tangan. Karena penyebaran virus bisa melalui udara, air liur dan sentuhan tangan yang terkena virus,” lanjutnya.

Tidak hanya pencegahan bakteri dan kuman, adapun manfaat lain sanitizer yang dijelaskan Hendro.
“Manfaatnya untuk membunuh kuman dan bakteri, mengurangi efek gigitan serangga, menghilangkan tinta, menghilangkan bekas makeup, menghilangkan bekas perekat,” pungkasnya. (ct2/rez)

Sumber: Sukabumiupdate.com

Kategori
Pendidikan

50 Persen Dana BOS Bisa Digunakan untuk Gaji Honorer

SUKABUMITODAY.CO – Pemerintah telah mengubah kebijakan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2020. Kali ini Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, menambah batas maksimal upah bagi guru honorer dari BOS menjadi 50 persen.

Sebelumnya Kemendikbud menetapkan batas maksimal penggunaan dana BOS hanya 15 persen untuk upah guru maupun tenaga pendidik di sekolah.

“Restriksi sebelumnya kita sederhanakan. 2020 hanya ada satu limit, yaitu maksimal 50 persen dari dana BOS digunakan untuk biaya honorer. Ini langkah utama Kemdikbud membantu menyejahterakan guru honorer yang layak mendapatkan upah lebih layak.” ujar Nadiem di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (10/2).

Lebih Fleksibel

Hal ini dilakukan sebagai langkah awal untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru honorer.

“Penggunaan BOS sekarang lebih fleksibel untuk kebutuhan sekolah. Melalui kolaborasi dengan Kemenkeu dan Kemendagri, kebijakan ini sebagai langkah pertama untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru honorer dan juga untuk tenaga Kependidikan. Porsinya hingga 50 persen” ujarnya.

Nadiem juga mengatakan, kebijakan ini dilakukan atas masukan para guru non-PNS maupun PNS mengenai upah guru honorer yang kurang layak.

Selain untuk guru honorer batas maksimal inipun dapat digunakan dalam memberikan upah pegawai di institusi pendidikan lainnya, seperti tenaga tata usaha (TU) atau operator administatif.

“Batas 50 persen tersebut, tak wajib dibelanjakan semuanya untuk tenaga honorer. Pasalnya ada sejumlah sekolah yang tak punya banyak tenaga honorer karena jumlah guru PNS yang sudah memadai. Maka itu kewenangan pemakaian anggaran ada di tangan kepala sekolah” ucap Nadiem.

Tidak hanya itu, aturan mengenai batas maksimal penggunaan dana BOS yang mengharuskan 20 persen digunakan untuk peralatan sekolah seperti buku pelajaran. Kali ini akan dicabut dan dibebaskan otonominya kepada sekolah.

Tidak hanya dana BOS sekolah, Nadiem bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga mengumumkan bahwa penyaluran dana BOS dan dana desa bakal langsung diberikan ke sekolah dan kepala desa.

Sebelumnya, penyaluran dana BOS dan dana desa haruslah melalui pemerintah daerah. Namun saat ini kebijakan tersebut dihapuskan. (ct2/rez)

Diolah dari berbagai sumber | Foto: Tirto

Kategori
Pendidikan

Kemenag Sukabumi Imbau Para Santri Rayakan Hari Santri Nasional 2019

SUKABUMITODAY.CO, Sukabumi – Menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2019, Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi, mengimbau seluruh santri di Kabupaten Sukabumi untuk merayakannya. Rencananya perayaan tersebut akan digelar di Masjid Raudhatul Irfan, di Jalur Lingkar Selatan – Cibolang, Kecamatan Cisaat, Selasa (22/10/2019) mendatang.

Kepala Kemenag Kabupaten Sukabumi, Abas Resmana menuturkan, surat himbauan telah ditujukan kepada Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Forum Komunikasi Pendidikan Al Quran (FKPQ), Forum Pondok Pesantren (FPP), Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA).

Kemudian kepada Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTS), Kelampak Kerja Madrasah Aliyah (KKMA), Kelompak Kerja Madrasah lbtidaiyah (KKMIl). Serta, seluruh Kepala KUA di Kabupaten Sukabumi dan para santri.

“Surat himbauan tersebut, sudah kami edarkan kepada mereka sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2019 Tentang Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2019,” jelasnya dikutip Radar Sukabumi (18/10/2019).

Pada perayaan tahun ini ini, lanjut Abas, Kemenag akan menggelar upacara dengan mengerahkan ustadz, guru, dan seluruh santri.

“Untuk peserta upacara laki-laki, kami sarankan agar mengenakan pakaian koko putih, peci hitam, dan mengenakan sarung,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya pun meminta kepada seluruh KUA, Pokjawas, Pokjaluh, MI, MTs, MA, FKDT, FKPQ dan FPP untuk memasang spanduk Hari Santri Nasional yang bertajuk Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia.

“Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama. Tujuannya memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara muslim moderat terbesar di dunia yang berkontribusi positif bagi perdamaian dunia. Serta menghapus stigma pendidikan Islam sebagai sumber pemahaman esktrimisme dan radikalisme,” pungkasnya.

Untuk diketahui, peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Penetapan ini bertujuan untuk meneladani semangat jihad kepada para santri tentang keindonesiaan yang disuarakan para ulama. (ct1)